“Mengapa Pak? Mengapa anak saya tidak bisa menjadi wali untuk adik perempuannya?” tanya wanita itu sambil mengusap air mata dengan jari-jarinya.
Saya tercekat tak bisa langsung menjawab. Pertanyaan seperti inilah yang sering membungkam mulut saya. Saya tak kuasa memberi penjelasan yang tegas atau keterangan yang pasti.
Wanita itu datang seorang diri ke KUA. Tidak ada yang menemaninya. Tidak orangtuanya, tidak pula kakak, atau pun calon suaminya. Ia turun dari motor tukang ojek dengan kepala tertunduk. Pakaiannya sangat sederhana, kaos berkerah pendek, dan celana jins yang usang. Wajahnya tampak sunyi, tanpa emosi, tanpa senyuman. Dengan langkah gontai ia berjalan memasuki kantor. Tanpa berkata-kata, tanpa salam, dan tanpa melihat kiri kanan, ia langsung duduk di kursi tamu. Ia duduk diam sambil memegangi sepucuk amplop coklat yang telah lusuh dan sobek. Tatapan matanya kosong. Seorang staf kantor mendekatinya dan menanyakan maksud kedatangannya. Ia berkata pelan, “Pak Amil minta saya datang ke sini.”
Saya langsung paham. Ia mau mengikuti penataran calon pengantin yang biasa dilakukan di KUA beberapa hari sebelum pelaksanaan akad nikah. Saya segera mendekatinya dan menyiapkan berkas-berkas persyaratan nikahnya. Lalu saya meminta gadis itu mengikuti saya ke ruang penataran. Ia bangkit berdiri lalu berjalan mengikuti saya. Tanpa suara. Kami masuki sebuah ruangan yang sempit dan pengap. Hanya ada dua buah meja dan beberapa kursi di ruangan itu. Cuaca yang cukup panas semakin membuat suasana di ruang penataran itu tidak nyaman. Saya duduk di belakang meja dan mempersilahkan gadis itu duduk. Gadis itu tetap diam atanpa kata-kata. Wajahnya kini terlihat muram dan berduka. Kepalanya tertunduk dan kedua tangannya memegang erat amplop coklat yang terlihat semakin keriput dan usang.
Seperti biasa, saya langsung memeriksa berkas-berkas persyaratan nikahnya. Sering kali muncul masalah berkaitan dengan asal-usul, nama, dan tanggal lahir pengantin yang mereka keluhkan setelah buku kutipan akta nikah mereka terima. Ada yang mengeluhkan kesalahan huruf pada namanya atau kesalahan tanggal lahirnya. Karena itulah kami tekankan agar setiap calon pengantin datang langsung ke KUA untuk mencocokkan segala bentuk administrasi sehingga tidak ada kesalahan dan keluhan di kemudian hari. Birokrasi memang rumit, perbedaan satu huruf pada akta kelahiran dan akta nikah bisa menggagalkan seseorang dapat gaji atau pensiun. Itulah administrasi. Ruwet dan kadang-kadang memuakkan. Namun, kata yang enggak jelas asal-usulnya itu, entah dari para meneer Belanda atau para bule Inggris, memiliki kesaktian yang luar biasa. Ketika seseorang mengatakan, “Administrasinya Pak?” serta merta ia akan mendapatkan uang dari orang yang ditanya. Bahkan, lebih hebat lagi, kita cukup menyebut akronimnya, “a-d-m Pak,” dan tanpa menunggu lama, uang atau amplop berisi uang telah berpindah tangan. Itulah kesaktian a-d-m. Meminjam kata-kata Barthes, kata yang sederhana ini mengandung lapis-lapis makna yang sangat banyak dan luas. Ia bisa berarti sehelai kertas, sepucuk surat, uang, persyaratan, rezeki, dan lain-lain. Setiap orang dapat menggali makna untuk kata itu sekehendak hatinya. Bisa jadi kelak, kata itu akan berarti kematian atau kehidupan.
Nama calon suami gadis itu Marjuki, berasal dari kabupaten yang sama dengan calon istrinya. Pada kolom pekerjaan tak tertera apa pun, hanya sebuah garis pendek. Tanda itu bisa berarti apa saja, tetapi bisanya makna konotasi jelas: Marjuki tidak punya pekerjaan, alias pengangguran. Dan nama gadis itu, pengantin yang muram dan berduka, Neneng Juleha. Mungkin kalau ia lahir di Arab, namanya akan berbunyi “Zulaykhâ”—dengan akhiran huruf khâ seperti nama pecinta Yusuf. Sama dengan calon suaminya, tak ada sepenggal pun kata pada kolom pekerjaan. Jadi, sangat mungkin ia pun pengangguran. Dan seperti calon suaminya, pendidikan terakhirnya hanya sekolah dasar (S1).
Dan pada kolom orang tua Neneng tercantum alamat yang berbeda dengan alamatnya. Jadi, ia dan bapaknya tidak tinggal serumah. Kelak saya tahu bahwa ia tinggal bersama bapak angkatnya. Ibunya telah meninggal, sedangkan bapaknya sudah menikah lagi dan tak mampu menafkahi anak tertuanya itu sehingga menitipkannya kepada saudaranya. Sejak kecil ia tinggal bersama orangtua angkatnya itu. Saya pikir, bukan karena saudaranya itu lebih kaya, tetapi karena ibunya lebih miskin sehingga mau menerima Neneng sebagai anak angkatnya. Anda tak perlu merasa kaya untuk punya anak angkat. Cukup dengan merasa lebih kaya dibanding orang lain, Anda bisa dapatkan banyak anak. Namun, sangat jarang orang yang mau merasa kaya untuk urusan seperti ini.
Neneng Juleha tak banyak bicara. Ia tetap muram dan berduka. Ia hanya menjawab seperlunya setiap pertanyaan saya. Sering kali ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala.
Urusan administrasi persyaratan beres. Kini tinggal penataran. Seperti kata administrasi, kata ini pun tak jelas asal-usul dan juntrungan maknanya. Kata ini pilih kasih. Ia tidak dapat menerima semua bentuk awalan dan akhiran. Anda tidak akan mendengar seseorang berkata, “Ia sedang menatari anaknya” atau, “Ia sedang menatarkan anaknya kepada seorang kyai”, dan lain-lain. Kata ini lahir begitu saja dengan awalan atau akhiran, atau keduanya—ditatar, menatar, dan penataran. Ia lahir begitu saja tanpa ayah atau ibu. Tak pernah kita dengar seseorang menyebutkan kata “tatar” kecuali disandingkan dengan nama tempat—seperti “tatar Sunda” atau “tatar Kuningan”. Selayaknya “administrasi”, juntrungan maknanya pun tak jelas. Jika dilekati akhiran “an”, maknanya akan jauh berbeda dengan makna penataran. Lebih dari satu dasawarsa yang lampau, kata ini lebih sakti daripada kata administrasi. Seseorang bisa tak lulus sekolah, tak bisa jadi pegawai negeri, tak dapat mengajar, dan bahkan bisa dipenjara jika salah memperlakukan kata ini.
Setidak jelas makna katanya, penataran calon pengantin pun tidak jelas juntrungannya. Sejatinya, kegiatan itu dilakukan agar setiap calon pengantin bisa menghadapi dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih baik dan lebih sejahtera. Namun, tujuan itu terlampau luhur dan absurd, karena mereka hanya mendapatkan beberapa menit perjumpaan dengan si penatar.
Bagaimanapun, saya harus melakukan penataran. Ini menyangkut urusan administrasi, birokrasi, dan harga diri. Tentu saja. Harga diri seorang penghulu di antaranya melakukan penataran calon pengantin. Harga diri seorang guru adalah menggurui, bukan hanya datang dan mendiskusikan acara tivi atau angka kredit sertifikasi dengan teman-teman gurunya; harga diri seorang wartawan adalah mewartakan, bukan mengancam atau bersilaturahmi. Untuk itulah kami digaji oleh negara. Demi harga diri! Karena itulah saya kembali menghadapi Neneng Juleha kekasih Marjuki ini untuk memberikan tataran kepadanya mengenai berbagai aspek kehidupan rumah tangga.
Nah, di sinilah sering muncul masalah. Kehidupan rumah tangga adalah sebentuk kehidupan yang rumit dan luas cakupannya. Ia meliputi persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. IPOLEKSOSBUDHANKAM-X. Huruf ex adalah akronim untuk seks. Ya, urusan terakhir itu sangat penting, bahkan sering kali menjadi sebab kehancuran rumah tangga. Tetapi entah mengapa pemerintah Orde Baru tidak memasukkannya dalam penataran. Seharusnya, selain ipoleksosbudhankan, mereka juga menyertakan pelajaran biologis—bukan biologi (seks, yang disingkat X), dengan beberapa tingkatan X, XX, dan XXX.
Penatar harus mampu menyampaikan semua pelajaran itu, karena memang semuanya berpengaruh terhadap keberlangsungan rumah tangga. Tidak mustahil, sepasang suami istri bercerai karena SBY tidak terpilih sebagai presiden. Fakta membuktikan, banyak pasangan yang bercerai karena tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Lebih tragis lagi, banyak orang yang bunuh diri karena salah satu pasangan tak jadi anggota DPR. Ada pula yang bercerai karena beda partai atau beda afiliasi calon bupati. Karena itu, pengantin butuh pelajaran politik. Tidak jarang, seorang wanita marah-marah kepada suaminya karena ia malas ikut gotong royong membersihkan got; atau seorang laki-laki memarahi istrinya karena kebanyakan ikut arisan. Karenanya, pengantin butuh pelajaran sosial. Sering diberitakan seorang ibu gantung diri atau gantung bayi karena dihimpit persoalan ekonomi. Maka, setiap calon pengantin harus dibekali pelajaran ekonomi, mikro maupun makro. Banyak pula karena perbedaan budaya atau ideologi, suami istri saling cakar dan saling banting. Semuanya penting. Semuanya berkaitan dengan kehidupan pernikahan. Dan yang lebih penting adalah pelajaran X. Karena urusan inilah banyak orang yang mengkhianati pasangannya dan berselingkuh dengan orang lain. Karena urusan inilah banyak ginekolog yang jadi pesohor; banyak penerbit yang bisa tetap hidup karena menerbitkan Kamasutra Arab, Kamasutra Cina, Kamasutra Bule, dan yang sejenisnya. Itulah rumitnya kehidupan rumah tangga. Para calon pengantin juga harus belajar bagaimana melempar, membidik, menahan pukulan, dan lain-lain.
Kendalanya, pertemuan antara penatar dan petatar hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Kesibukan para calon pengantin, kemalasan petugas, jarak yang cukup jauh antara tempat tinggal pengantin dan KUA, dan sebab-sebab lain menjadi kendala yang menghalangi intensitas perjumpaan antara penatar dan petatar. Mungkin akan lain ceritanya jika penataran pengantin diatur dengan regulasi yang ketat seperti Penataran P-4, dan dibagi ke dalam beberapa tingkatan: pertama, muda, madya, dan pembina. Setiap pengantin yang sudah mengikuti penataran tingkat madya bisa menatar pengantin pemula, dan seterusnya… untunglah tak pernah ada regulasi seperti itu sehingga para calon pengantin tidak wajib datang ke KUA dan para penghulu seperti saya bisa berleha-leha, ngopi, baca koran, main solitaire, dan menulis catatan harian. Para kepala KUA bisa bersantai di kursi putar sambil menghitung uang setoran, uang a-d-m, dan uang selisih laba ATK. Tak terbayangkan, betapa sibuknya kami jika penataran pengantin diatur sedemikian rupa seperti P-4, dilengkapi dengan berbagai perangkat, media, alat ajar, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan tugas lapangan, observasi, dan lain-lain. Sungguh ajaib, Penataran P-4 bisa bertahan sedemikian lama dengan segala kerumitannya.
Karena kendala itulah banyak calon pengantin yang tidak datang ke KUA untuk mengikuti penataran calon pengantin. Dan jika ada yang berbaik hati datang, mereka hanya akan mendapatkan waktu perjumpaan yang singkat, setengah atau paling lama dua jam. Ngapain lama-lama? Tidak ada Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk kegiatan itu. Andai saja ada celah korupsi dalam bidang penataran pengantin, tentu kegiatan ini akan lebih semarak, dan para penghulu akan lebih bergairah menatar para calon pengantin. Namun, seperti itulah kenyataannya. Tak banyak waktu perjumpaan antara kami dan para calon pengantin. Di sinilah dibutuhkan kejelian, kepintaran, dan muslihat untuk menentukan aspek apa sajakah dari ipoleksosbudhankam-x itu yang harus diutamakan. Perbedaan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan setiap calon pengantin meniscayakan setiap petugas untuk cerdas memilah dan cerdik memilih. Agak kurang pas seandainya pengantin yang keluaran SD, bekerja sebagai buruh tani, dan tinggal di pinggiran hutan kita suguhi materi tentang budaya metroseksual atau komunikasi interpersonal.
Pada tahap inilah diperlukan kecerdikan untuk menelisik latar belakang sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan agama calon pengantin. Biasanya, ketika seorang atau sepasang calon pengantin datang untuk mendaftar atau mengikuti penataran, saya akan berlaku bak detektif. Saya akan perhatikan pakaiannya, kendaraan yang dibawanya, tingkah lakunya, juga tutur kata dan gaya bicaranya. Kadang-kadang dengan melihat sekilas pada raut muka dan pandangannya, saya bisa menebak sifat mereka, apakah pendiam, pemarah, ekstrovert, introvert, dan lain-lain. Mata adalah jendela hati, demikian kata Imam Ali ibn Abu Thalib. Lihatlah matanya, kita akan menyaksikan penderitaan, amarah, kebencian, kebahagiaan, dendam, partai pilihannya, gaya hubungan seks yang paling disukainya, dan lain-lain. Saat jendela terbuka, kita akan mengetahui isi rumah seseorang. Barulah setelah membuka jendela, saya akan memilah materi apa yang layak untuk disampaikan kepadanya. Saya pikir, penataran macam apa pun, kecuali P-4, tidak akan berbekas lama dalam pikiran seseorang, dan tidak akan pernah menjadi rujukan ketika ia hadapi suatu permasalahan dalam hidupnya. Saat seorang suami marah dan menampar istrinya karena salah menyeterika baju, misalnya, ia tidak akan mengingat apa yang dulu dikatakan penghulu agar selalu bersikap sabar, tabah, dan menyayangi istri. Atau, saat seorang istri murka, melempar piring, gelas, atau kompor—yang terakhir ini jarang terjadi—karena melihat suaminya membonceng bekas pacarnya dulu, ia pun tidak akan teringat pada wejangan penghulu yang menasihatinya agar bersabar dan memperlakukan suami dengan baik.
Sungguh, saya sendiri tidak ingat lagi, apa yang disampaikan penghulu dalam khutbah nikahnya saat saya menikah, padahal baru beberapa tahun berlalu. Kehidupan pernikahan tidak seperti sekolahan yang kurikulumnya, jenjang kenaikan kelasnya, dan waktu serta materi ujiannya telah ditentukan. Tidak ada handbook untuk membentuk keluarga yang bahagia dan harmonis. Kita bagaikan berjalan menuju kota Bahagia tetapi harus melewati hutan belantara. Kita, dengan pasangan kita akan menghadapi berbagai macam rintangan dan kesulitan. Mungkin baru berjalan beberapa langkah kita langsung berhadapan dengan hewan buas. Atau setelah jauh melangkah, tiba-tiba ada jurang menghadang, atau tebing yang terlampau terjal, atau perampok, dan lain-lain. Kita tidak pernah tahu kapan ujian akan datang dan dalam bentuk apa, essay, ataukah pilihan berganda. Namun, ada juga pasangan yang begitu memasuki hutan langsung berkemah di tempat yang teduh, indah, dan dekat dengan sumber air. Saking nikmatnya, mereka robohkan tenda, membangun rumah yang permanen, dan menetap selamanya di tempat itu tidak mau menyeberangi hutan untuk sampai ke kota tujuan.
Sekali lagi, tidak ada handbook atau manual untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Saya, sebagai penghulu, menatar para calon pengantin yang datang ke KUA semata-mata untuk menjalankan tugas dan memelihara harga diri. Kendati demikian, saya berharap apa yang disampaikan akan berbekas setidaknya sehari dua hari di benak para calon pengantin. Target maksimalnya, ada di antara calon pengantin itu yang tidak segan datang ke KUA. Saya menganggap setiap calon pengantin yang datang ke KUA sebagai sahabat atau keluarga dekat sehingga mereka tak sungkan-sungkan bertutur tentang diri mereka, permasalahan, kesulitan, dan berbagai hal lainnya. Jika kelak menghadapi permasalahan dalam keluarga, mereka tidak menceritakannya kepada orang lain, tetapi ke petugas KUA karena merasa rahasia mereka akan terjaga. Dan alhamdulilah, selama tiga tahun karir saya sebagai penghulu, ada tiga pasang calon pengantin yang suka berkunjung atau mencegat saya di perjalanan kemudian menceritakan suka duka kehidupan rumah tangga mereka. Salah satu di antaranya adalah pasangan yang istrinya seorang mualaf. Ia sering datang atau menelepon untuk berdiskusi tentang bagaimana mendidik istrinya agar mau beribadah dan menjalankan tugas sebagai istri sesuai dengan ajaran Islam. Itulah target maksimal saya dalam melakukan penataran: pengantin merasa ada seseorang yang mau mendengar dan menjaga rahasia mereka.
Kata-kata tentang kebenaran akan mudah dilupakan, sedangkan kata-kata fitnah, tuduhan, dan kebencian akan terpatri selamanya di dalam hati.
Di sinilah, sekali lagi, diperlukan kejelian untuk memahami kondisi kejiwaan seseorang yang kita hadapi. Dengan demikian, kita bisa berbicara dan berdiskusi mengenai materi yang benar-benar ia butuhkan. Saya tak pernah mengikuti buku pedoman penataran pra-nikah yang diterbitkan oleh Departemen Agama. Sebab, terlalu banyak materi yang harus disampaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bayangkan, dalam waktu hanya satu atau paling lama dua jam, saya harus menyampaikan materi tentang hukum dan aturan pernikahan, pembinaan keluarga sakinah, fikih munakahat, keagamaan, dan kesejahteraan keluarga. Benar-benar menakjubkan. Jika dikuliahkan, semua materi itu bisa mencapai 50 SKS, dua semester penuh. Dan yang sangat mengagumkan, ketika melihat lampiran usulan kenaikan pangkat penghulu, tercantum bahwa mereka menyampaikan semua materi itu dalam penataran pengantin. Di antaranya karena urusan penataran inilah selama enam tahun menjadi pegawai pangkat dan golongan saya gak naik-naik. Saya menetap dan berkemah di kelas satu sambil menikmati semilir angin yang bertiup lembut.
Saya tercekat tak bisa langsung menjawab. Pertanyaan seperti inilah yang sering membungkam mulut saya. Saya tak kuasa memberi penjelasan yang tegas atau keterangan yang pasti.
Wanita itu datang seorang diri ke KUA. Tidak ada yang menemaninya. Tidak orangtuanya, tidak pula kakak, atau pun calon suaminya. Ia turun dari motor tukang ojek dengan kepala tertunduk. Pakaiannya sangat sederhana, kaos berkerah pendek, dan celana jins yang usang. Wajahnya tampak sunyi, tanpa emosi, tanpa senyuman. Dengan langkah gontai ia berjalan memasuki kantor. Tanpa berkata-kata, tanpa salam, dan tanpa melihat kiri kanan, ia langsung duduk di kursi tamu. Ia duduk diam sambil memegangi sepucuk amplop coklat yang telah lusuh dan sobek. Tatapan matanya kosong. Seorang staf kantor mendekatinya dan menanyakan maksud kedatangannya. Ia berkata pelan, “Pak Amil minta saya datang ke sini.”
Saya langsung paham. Ia mau mengikuti penataran calon pengantin yang biasa dilakukan di KUA beberapa hari sebelum pelaksanaan akad nikah. Saya segera mendekatinya dan menyiapkan berkas-berkas persyaratan nikahnya. Lalu saya meminta gadis itu mengikuti saya ke ruang penataran. Ia bangkit berdiri lalu berjalan mengikuti saya. Tanpa suara. Kami masuki sebuah ruangan yang sempit dan pengap. Hanya ada dua buah meja dan beberapa kursi di ruangan itu. Cuaca yang cukup panas semakin membuat suasana di ruang penataran itu tidak nyaman. Saya duduk di belakang meja dan mempersilahkan gadis itu duduk. Gadis itu tetap diam atanpa kata-kata. Wajahnya kini terlihat muram dan berduka. Kepalanya tertunduk dan kedua tangannya memegang erat amplop coklat yang terlihat semakin keriput dan usang.
Seperti biasa, saya langsung memeriksa berkas-berkas persyaratan nikahnya. Sering kali muncul masalah berkaitan dengan asal-usul, nama, dan tanggal lahir pengantin yang mereka keluhkan setelah buku kutipan akta nikah mereka terima. Ada yang mengeluhkan kesalahan huruf pada namanya atau kesalahan tanggal lahirnya. Karena itulah kami tekankan agar setiap calon pengantin datang langsung ke KUA untuk mencocokkan segala bentuk administrasi sehingga tidak ada kesalahan dan keluhan di kemudian hari. Birokrasi memang rumit, perbedaan satu huruf pada akta kelahiran dan akta nikah bisa menggagalkan seseorang dapat gaji atau pensiun. Itulah administrasi. Ruwet dan kadang-kadang memuakkan. Namun, kata yang enggak jelas asal-usulnya itu, entah dari para meneer Belanda atau para bule Inggris, memiliki kesaktian yang luar biasa. Ketika seseorang mengatakan, “Administrasinya Pak?” serta merta ia akan mendapatkan uang dari orang yang ditanya. Bahkan, lebih hebat lagi, kita cukup menyebut akronimnya, “a-d-m Pak,” dan tanpa menunggu lama, uang atau amplop berisi uang telah berpindah tangan. Itulah kesaktian a-d-m. Meminjam kata-kata Barthes, kata yang sederhana ini mengandung lapis-lapis makna yang sangat banyak dan luas. Ia bisa berarti sehelai kertas, sepucuk surat, uang, persyaratan, rezeki, dan lain-lain. Setiap orang dapat menggali makna untuk kata itu sekehendak hatinya. Bisa jadi kelak, kata itu akan berarti kematian atau kehidupan.
Nama calon suami gadis itu Marjuki, berasal dari kabupaten yang sama dengan calon istrinya. Pada kolom pekerjaan tak tertera apa pun, hanya sebuah garis pendek. Tanda itu bisa berarti apa saja, tetapi bisanya makna konotasi jelas: Marjuki tidak punya pekerjaan, alias pengangguran. Dan nama gadis itu, pengantin yang muram dan berduka, Neneng Juleha. Mungkin kalau ia lahir di Arab, namanya akan berbunyi “Zulaykhâ”—dengan akhiran huruf khâ seperti nama pecinta Yusuf. Sama dengan calon suaminya, tak ada sepenggal pun kata pada kolom pekerjaan. Jadi, sangat mungkin ia pun pengangguran. Dan seperti calon suaminya, pendidikan terakhirnya hanya sekolah dasar (S1).
Dan pada kolom orang tua Neneng tercantum alamat yang berbeda dengan alamatnya. Jadi, ia dan bapaknya tidak tinggal serumah. Kelak saya tahu bahwa ia tinggal bersama bapak angkatnya. Ibunya telah meninggal, sedangkan bapaknya sudah menikah lagi dan tak mampu menafkahi anak tertuanya itu sehingga menitipkannya kepada saudaranya. Sejak kecil ia tinggal bersama orangtua angkatnya itu. Saya pikir, bukan karena saudaranya itu lebih kaya, tetapi karena ibunya lebih miskin sehingga mau menerima Neneng sebagai anak angkatnya. Anda tak perlu merasa kaya untuk punya anak angkat. Cukup dengan merasa lebih kaya dibanding orang lain, Anda bisa dapatkan banyak anak. Namun, sangat jarang orang yang mau merasa kaya untuk urusan seperti ini.
Neneng Juleha tak banyak bicara. Ia tetap muram dan berduka. Ia hanya menjawab seperlunya setiap pertanyaan saya. Sering kali ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala.
Urusan administrasi persyaratan beres. Kini tinggal penataran. Seperti kata administrasi, kata ini pun tak jelas asal-usul dan juntrungan maknanya. Kata ini pilih kasih. Ia tidak dapat menerima semua bentuk awalan dan akhiran. Anda tidak akan mendengar seseorang berkata, “Ia sedang menatari anaknya” atau, “Ia sedang menatarkan anaknya kepada seorang kyai”, dan lain-lain. Kata ini lahir begitu saja dengan awalan atau akhiran, atau keduanya—ditatar, menatar, dan penataran. Ia lahir begitu saja tanpa ayah atau ibu. Tak pernah kita dengar seseorang menyebutkan kata “tatar” kecuali disandingkan dengan nama tempat—seperti “tatar Sunda” atau “tatar Kuningan”. Selayaknya “administrasi”, juntrungan maknanya pun tak jelas. Jika dilekati akhiran “an”, maknanya akan jauh berbeda dengan makna penataran. Lebih dari satu dasawarsa yang lampau, kata ini lebih sakti daripada kata administrasi. Seseorang bisa tak lulus sekolah, tak bisa jadi pegawai negeri, tak dapat mengajar, dan bahkan bisa dipenjara jika salah memperlakukan kata ini.
Setidak jelas makna katanya, penataran calon pengantin pun tidak jelas juntrungannya. Sejatinya, kegiatan itu dilakukan agar setiap calon pengantin bisa menghadapi dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih baik dan lebih sejahtera. Namun, tujuan itu terlampau luhur dan absurd, karena mereka hanya mendapatkan beberapa menit perjumpaan dengan si penatar.
Bagaimanapun, saya harus melakukan penataran. Ini menyangkut urusan administrasi, birokrasi, dan harga diri. Tentu saja. Harga diri seorang penghulu di antaranya melakukan penataran calon pengantin. Harga diri seorang guru adalah menggurui, bukan hanya datang dan mendiskusikan acara tivi atau angka kredit sertifikasi dengan teman-teman gurunya; harga diri seorang wartawan adalah mewartakan, bukan mengancam atau bersilaturahmi. Untuk itulah kami digaji oleh negara. Demi harga diri! Karena itulah saya kembali menghadapi Neneng Juleha kekasih Marjuki ini untuk memberikan tataran kepadanya mengenai berbagai aspek kehidupan rumah tangga.
Nah, di sinilah sering muncul masalah. Kehidupan rumah tangga adalah sebentuk kehidupan yang rumit dan luas cakupannya. Ia meliputi persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. IPOLEKSOSBUDHANKAM-X. Huruf ex adalah akronim untuk seks. Ya, urusan terakhir itu sangat penting, bahkan sering kali menjadi sebab kehancuran rumah tangga. Tetapi entah mengapa pemerintah Orde Baru tidak memasukkannya dalam penataran. Seharusnya, selain ipoleksosbudhankan, mereka juga menyertakan pelajaran biologis—bukan biologi (seks, yang disingkat X), dengan beberapa tingkatan X, XX, dan XXX.
Penatar harus mampu menyampaikan semua pelajaran itu, karena memang semuanya berpengaruh terhadap keberlangsungan rumah tangga. Tidak mustahil, sepasang suami istri bercerai karena SBY tidak terpilih sebagai presiden. Fakta membuktikan, banyak pasangan yang bercerai karena tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Lebih tragis lagi, banyak orang yang bunuh diri karena salah satu pasangan tak jadi anggota DPR. Ada pula yang bercerai karena beda partai atau beda afiliasi calon bupati. Karena itu, pengantin butuh pelajaran politik. Tidak jarang, seorang wanita marah-marah kepada suaminya karena ia malas ikut gotong royong membersihkan got; atau seorang laki-laki memarahi istrinya karena kebanyakan ikut arisan. Karenanya, pengantin butuh pelajaran sosial. Sering diberitakan seorang ibu gantung diri atau gantung bayi karena dihimpit persoalan ekonomi. Maka, setiap calon pengantin harus dibekali pelajaran ekonomi, mikro maupun makro. Banyak pula karena perbedaan budaya atau ideologi, suami istri saling cakar dan saling banting. Semuanya penting. Semuanya berkaitan dengan kehidupan pernikahan. Dan yang lebih penting adalah pelajaran X. Karena urusan inilah banyak orang yang mengkhianati pasangannya dan berselingkuh dengan orang lain. Karena urusan inilah banyak ginekolog yang jadi pesohor; banyak penerbit yang bisa tetap hidup karena menerbitkan Kamasutra Arab, Kamasutra Cina, Kamasutra Bule, dan yang sejenisnya. Itulah rumitnya kehidupan rumah tangga. Para calon pengantin juga harus belajar bagaimana melempar, membidik, menahan pukulan, dan lain-lain.
Kendalanya, pertemuan antara penatar dan petatar hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Kesibukan para calon pengantin, kemalasan petugas, jarak yang cukup jauh antara tempat tinggal pengantin dan KUA, dan sebab-sebab lain menjadi kendala yang menghalangi intensitas perjumpaan antara penatar dan petatar. Mungkin akan lain ceritanya jika penataran pengantin diatur dengan regulasi yang ketat seperti Penataran P-4, dan dibagi ke dalam beberapa tingkatan: pertama, muda, madya, dan pembina. Setiap pengantin yang sudah mengikuti penataran tingkat madya bisa menatar pengantin pemula, dan seterusnya… untunglah tak pernah ada regulasi seperti itu sehingga para calon pengantin tidak wajib datang ke KUA dan para penghulu seperti saya bisa berleha-leha, ngopi, baca koran, main solitaire, dan menulis catatan harian. Para kepala KUA bisa bersantai di kursi putar sambil menghitung uang setoran, uang a-d-m, dan uang selisih laba ATK. Tak terbayangkan, betapa sibuknya kami jika penataran pengantin diatur sedemikian rupa seperti P-4, dilengkapi dengan berbagai perangkat, media, alat ajar, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan tugas lapangan, observasi, dan lain-lain. Sungguh ajaib, Penataran P-4 bisa bertahan sedemikian lama dengan segala kerumitannya.
Karena kendala itulah banyak calon pengantin yang tidak datang ke KUA untuk mengikuti penataran calon pengantin. Dan jika ada yang berbaik hati datang, mereka hanya akan mendapatkan waktu perjumpaan yang singkat, setengah atau paling lama dua jam. Ngapain lama-lama? Tidak ada Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk kegiatan itu. Andai saja ada celah korupsi dalam bidang penataran pengantin, tentu kegiatan ini akan lebih semarak, dan para penghulu akan lebih bergairah menatar para calon pengantin. Namun, seperti itulah kenyataannya. Tak banyak waktu perjumpaan antara kami dan para calon pengantin. Di sinilah dibutuhkan kejelian, kepintaran, dan muslihat untuk menentukan aspek apa sajakah dari ipoleksosbudhankam-x itu yang harus diutamakan. Perbedaan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan setiap calon pengantin meniscayakan setiap petugas untuk cerdas memilah dan cerdik memilih. Agak kurang pas seandainya pengantin yang keluaran SD, bekerja sebagai buruh tani, dan tinggal di pinggiran hutan kita suguhi materi tentang budaya metroseksual atau komunikasi interpersonal.
Pada tahap inilah diperlukan kecerdikan untuk menelisik latar belakang sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan agama calon pengantin. Biasanya, ketika seorang atau sepasang calon pengantin datang untuk mendaftar atau mengikuti penataran, saya akan berlaku bak detektif. Saya akan perhatikan pakaiannya, kendaraan yang dibawanya, tingkah lakunya, juga tutur kata dan gaya bicaranya. Kadang-kadang dengan melihat sekilas pada raut muka dan pandangannya, saya bisa menebak sifat mereka, apakah pendiam, pemarah, ekstrovert, introvert, dan lain-lain. Mata adalah jendela hati, demikian kata Imam Ali ibn Abu Thalib. Lihatlah matanya, kita akan menyaksikan penderitaan, amarah, kebencian, kebahagiaan, dendam, partai pilihannya, gaya hubungan seks yang paling disukainya, dan lain-lain. Saat jendela terbuka, kita akan mengetahui isi rumah seseorang. Barulah setelah membuka jendela, saya akan memilah materi apa yang layak untuk disampaikan kepadanya. Saya pikir, penataran macam apa pun, kecuali P-4, tidak akan berbekas lama dalam pikiran seseorang, dan tidak akan pernah menjadi rujukan ketika ia hadapi suatu permasalahan dalam hidupnya. Saat seorang suami marah dan menampar istrinya karena salah menyeterika baju, misalnya, ia tidak akan mengingat apa yang dulu dikatakan penghulu agar selalu bersikap sabar, tabah, dan menyayangi istri. Atau, saat seorang istri murka, melempar piring, gelas, atau kompor—yang terakhir ini jarang terjadi—karena melihat suaminya membonceng bekas pacarnya dulu, ia pun tidak akan teringat pada wejangan penghulu yang menasihatinya agar bersabar dan memperlakukan suami dengan baik.
Sungguh, saya sendiri tidak ingat lagi, apa yang disampaikan penghulu dalam khutbah nikahnya saat saya menikah, padahal baru beberapa tahun berlalu. Kehidupan pernikahan tidak seperti sekolahan yang kurikulumnya, jenjang kenaikan kelasnya, dan waktu serta materi ujiannya telah ditentukan. Tidak ada handbook untuk membentuk keluarga yang bahagia dan harmonis. Kita bagaikan berjalan menuju kota Bahagia tetapi harus melewati hutan belantara. Kita, dengan pasangan kita akan menghadapi berbagai macam rintangan dan kesulitan. Mungkin baru berjalan beberapa langkah kita langsung berhadapan dengan hewan buas. Atau setelah jauh melangkah, tiba-tiba ada jurang menghadang, atau tebing yang terlampau terjal, atau perampok, dan lain-lain. Kita tidak pernah tahu kapan ujian akan datang dan dalam bentuk apa, essay, ataukah pilihan berganda. Namun, ada juga pasangan yang begitu memasuki hutan langsung berkemah di tempat yang teduh, indah, dan dekat dengan sumber air. Saking nikmatnya, mereka robohkan tenda, membangun rumah yang permanen, dan menetap selamanya di tempat itu tidak mau menyeberangi hutan untuk sampai ke kota tujuan.
Sekali lagi, tidak ada handbook atau manual untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Saya, sebagai penghulu, menatar para calon pengantin yang datang ke KUA semata-mata untuk menjalankan tugas dan memelihara harga diri. Kendati demikian, saya berharap apa yang disampaikan akan berbekas setidaknya sehari dua hari di benak para calon pengantin. Target maksimalnya, ada di antara calon pengantin itu yang tidak segan datang ke KUA. Saya menganggap setiap calon pengantin yang datang ke KUA sebagai sahabat atau keluarga dekat sehingga mereka tak sungkan-sungkan bertutur tentang diri mereka, permasalahan, kesulitan, dan berbagai hal lainnya. Jika kelak menghadapi permasalahan dalam keluarga, mereka tidak menceritakannya kepada orang lain, tetapi ke petugas KUA karena merasa rahasia mereka akan terjaga. Dan alhamdulilah, selama tiga tahun karir saya sebagai penghulu, ada tiga pasang calon pengantin yang suka berkunjung atau mencegat saya di perjalanan kemudian menceritakan suka duka kehidupan rumah tangga mereka. Salah satu di antaranya adalah pasangan yang istrinya seorang mualaf. Ia sering datang atau menelepon untuk berdiskusi tentang bagaimana mendidik istrinya agar mau beribadah dan menjalankan tugas sebagai istri sesuai dengan ajaran Islam. Itulah target maksimal saya dalam melakukan penataran: pengantin merasa ada seseorang yang mau mendengar dan menjaga rahasia mereka.
Kata-kata tentang kebenaran akan mudah dilupakan, sedangkan kata-kata fitnah, tuduhan, dan kebencian akan terpatri selamanya di dalam hati.
Di sinilah, sekali lagi, diperlukan kejelian untuk memahami kondisi kejiwaan seseorang yang kita hadapi. Dengan demikian, kita bisa berbicara dan berdiskusi mengenai materi yang benar-benar ia butuhkan. Saya tak pernah mengikuti buku pedoman penataran pra-nikah yang diterbitkan oleh Departemen Agama. Sebab, terlalu banyak materi yang harus disampaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bayangkan, dalam waktu hanya satu atau paling lama dua jam, saya harus menyampaikan materi tentang hukum dan aturan pernikahan, pembinaan keluarga sakinah, fikih munakahat, keagamaan, dan kesejahteraan keluarga. Benar-benar menakjubkan. Jika dikuliahkan, semua materi itu bisa mencapai 50 SKS, dua semester penuh. Dan yang sangat mengagumkan, ketika melihat lampiran usulan kenaikan pangkat penghulu, tercantum bahwa mereka menyampaikan semua materi itu dalam penataran pengantin. Di antaranya karena urusan penataran inilah selama enam tahun menjadi pegawai pangkat dan golongan saya gak naik-naik. Saya menetap dan berkemah di kelas satu sambil menikmati semilir angin yang bertiup lembut.